by

Ditangan Mahasiswa KKM IAIN, Limbah Sampah Plastik Jadi Barang Bernilai Ekonomis

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Apa yang anda fikirkan tentang waktu 50 Hari ?

50 Hari bisa menjadi waktu yang sangat panjang, jika dipakai untuk bersenang-senang

50 Hari bisa jadi terasa lama dan membosankan, jika dipakai untuk menunggu seseorang

Tapi 50 Hari merupakan waktu yang singkat dan sangat kurang jika kita ditugaskan untuk ‘mengubah sebuah masalah menjadi berkah’.

amal (1)
Tapi tidak bagi sepuluh Mahasiswa IAIN Samarinda yang ditugaskan oleh Almamater mereka untuk mengimplementasikan salah satu Tridarma Perguruan Tinggi butir ke tiga (Pengabdian Masyarakat), yaitu Melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa selama 50 Hari (13 Maret – 5 Mei 2018) di Desa Gas Alam Badak I Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara.

Adalah Faturahman, Muhammad Reza Rifaldi, Humaidi, Febri Setiawan, Esidias Pitriani, Milda, Erina Kuswandari, Wahyu Rahmah Wati, Hidayatus Sa’adah dan Siti Chalimatussa’diah yang berhasil menjawab tantangan tersebut dalam waktu 50 Hari, Mengubah Sampah Plastik yang tidak berguna menjadi barang yang bermanfaat dan Mengubah sumber masalah menjadi Pundi Rupiah.

al (1)
Kerja Keras mereka untuk menghasilkan Solusi dari hasil pengidentifikasian masalah, diganjar Piagam Penghargaan dari Pemerintah Desa Gas Alam Badak I atas jasa mereka mengkonversi limbah sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis.

“Kami ingin merubah paradigma yang selama ini berkembang di masyarakat, bahwa tumpukan sampah yang selama ini dianggap sebagai sumber masalah, menjadi sebaliknya sebagai tumpukan rupiah,” kata Faturahman selaku Ketua KKM IAIN Samarinda Kelompok Desa Gas Alam Badak I.

al (2)
“Kegiatan kami ini sebenarnya hanya sebagai stimulus atau rangsangan bagi masyarakat agar mau memulai mengelola sampah agar tidak lagi mencemari lingkungan” lanjutnya.

“Oleh karena itu program unggulan kami ini diberi tajuk menyalakan sumbu ekonomi dalam 50 hari harapannya setelah sumbunya kami nyalakan, maka tugas tersebut dilanjutkan oleh masyarakat,” tukasnya.

“Triger atau pemicunya kami awali dengan mengelola sampah plastiknya, dengan pertimbangan sampah plastik paling sulit diurai oleh lingkungan, bahkan membutuhkan hingga 100 tahun lamanya untuk bisa terurai oleh mikroorganisme” paparnya.

“Alasan lainnya, waktu yang kami punya sangat singkat, kurang lebih hanya 50 hari yang tidak memungkinkan bagi kami untuk mengelola seluruh material sampah yang ada (Organik & Anorganik) menjadi barang yang bermanfaat,” bebernya.
Saat ditanya ide awal dan pihak-pihak siapa saja yang membantu mewujudkan kegiatan ini, Mahasiswa IAIN Samarinda Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ini menjawab Ide ini murni datang dari mereka, namun Inovasi Pembuatan Paving Blok dari Limbah Sampah Plastik ini, merupakan temuan Bapak Karsin, warga Desa Jetis, Kecamatan kemangkon, Kabupaten Purbalingga Jawa tengah.

“Sedangkan pihak-pihak yang berkontribusi terhadap suksesnya program Unggulan kami ini, diantaranya Pihak Pemdes Gas Alam Badak I (Bapak H. Mohammad Hidayat, SP selaku Kepala Desa dan Bapak Rahdinal Agus Safrillah, SH selaku Sekretaris Desa) yang sangat mensupport kami dari awal kedatangan kami, hingga hari terakhir kami di sini” paparnya.

amal (2)
“Pihak lainnya yang sangat berperan, yaitu Bapak Amiruddin Erwin selaku Ketua FP2L (Forum Pemuda Peduli Lingkungan) Desa Gas Alam Badak I, yang tidak saja membantu kami dari mulai persiapan, pembuatan alat, penyediaan bahan/material, pembuatan paving blok, hingga membantu memfasilitasi penyerahan proposal permintaan bantuan pembuatan Tungku Bakar atau Incenerator kepada PT. KRS” urainya.

“Selanjutnya tentu saja pihak PT. KRS (Kali Raya Sari) yang telah berkenan menyediakan material pipa besar sekaligus membuatkan alat Incenerator secara gratis”

“Pihak terakhir adalah Bapak Ahmad beserta isteri yang dengan tulus meminjamkan halaman rumahnya yang luas, sebagai tempat ekperimen kami. Bahkan beliau tidak hanya menyediakan tempat pembuatan Paving Blok, namun juga membantu mencarikan kayu bakar, membantu menyalakan api incenerator, sampai menyediakan kami lampu neon yang besar untuk penerangan di malam hari, saat kami lembur mengerjakan projek di bidang ekonomi dan pelestarian lingkungan ini”
“Harapan kami, setelah masyarakat ter-edukasi bahwa ternyata sampah bisa diolah menjadi barang yang berguna, dampak lanjutannya adalah mendorong kreatifitas masyarakat untuk mencoba mengelola material sampah lainnya (misalnya sisa-sisa makanan) menjadi Pupuk Organik dan lain sebagainya” harapnya.

amal (3)
Yusran, M.Ag selaku Dosen Pembimbing pada Acara Perpisahan dan Presentasi Pembuatan Paving Blok dari Limbah Sampah Plastik mengatakan bahwa Mahasiswa kelompok Desa Gas Alam Badak I ini, telah keluar dari Zona nyaman mereka selama ini.

“Mereka telah membuktikan kepada Masyarakat, bahwa Mahasiswa IAIN yang kurikulumnya berbasis Ilmu Agama Islam, tapi bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat diluar disiplin ilmu mereka” bebernya saat memberi kata sambutan.

“Selain itu, terobosan mereka ini, merupakan manifestasi dari meneladani sifat Rasulullah SAW yang sangat berakhlak pada lingkungan,” lanjutnya bangga.

Di tempat terpisah H. Mohammad Hidayat, SP selaku Kepala Desa Gas Alam Badak I mengungkapkan rasa kagum dan bangganya serta memberi apresiasi yang tinggi terhadap apa yang telah dilakukan oleh Mahasiswa KKM IAIN Samarinda 2018 ini, karena berhasil melakukan sebuah terobosan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan dalam kurun waktu yang cukup singkat.

Selain itu, Mahasiswa KKM IAIN angkatan kedua di Desa Gas Alam Badak I ini. telah meletakkan standart yang tinggi bagi pelaksanaan KKM – KKM selanjutnya, baik dari IAIN sendiri maupun bagi Mahasiswa-mahasiswa KKM dari Universitas-universitas lainnya, sehingga kedepan akan lebih banyak lagi program-program unggulan yang bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang yang disesuaikan karakteristik masalah suatu daerah atau desa masing-masing.

“Jadi bukan hanya sekedar menjalankan program-program regular yang dari dulu itu-itu saja, bahkan tidak berubah dari sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Sudah saatnya Mahasiswa benar-benar menjadi agen perubahan, menjadi generasi-generasi pemikir, menciptakan inovasi bukan sekedar pintar mengkritisi,” ungkapnya.

Perwakilan PT. KRS (Kali Raya Sari) sebagai perusahaan yang membantu pembuatan Incenerator/Tungku Bakar, ketika diwawancarai mengatakan bahwa Program Unggulan Mahasiswa-KKM IAIN Samarinda ini sangat bagus sekali dan sudah seyogyanya diteruskan oleh Masyarakat dan Pemerintah Desa Gas Alam Badak I, sehingga sampah tidak lagi menjadi sumber masalah, namun malah menjadi berkah.#Gas Alam News#Asriyana, Muh. Aulia Rahman

News Feed