by

Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA : Ponsel Pintar antara Madu dan Racun

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Ponsel pintar, yang mulai diperkenalkan pada 2007, benar-benar telah mengubah sejarah peradaban manusia. Perubahan ini, yang jika dilihat dari sudut pandang teknologi, jelas merupakan pencapaian luar biasa dari kerja keras manusia untuk memudahkan hidupnya. Namun, zaman boleh berubah, generasi mesin tik boleh diganti oleh generasi elektronik, tetapi manusia sebagai manusia tetaplah sama. Pada hakikatnya, teknologi, betapapun canggihnya, hanyalah alat bagi manusia. Ia ibarat pisau bermata dua, yang bisa membawa kepada kebaikan atau keburukan. Di sana ada racun sekaligus madu.

Hal tersebut dikatakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA ketika memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika IAIN Samarinda, Senin (27/8/2018).

Di dalam kuliah umum Rektor yang sekaligus merupakan Guru Besar Sosiologi Agama UIN Antasari Banjarmasin ini banyak memberikan semangat kepada mahasiswa untuk pandai-pandai dalam mencermati revolusi sebagaimana terdapat pada ponsel pintar.


“Melalui smart phone orang dapat belajar, berkomunikasi, berbagi, bertransaksi, bernyanyi, dan seterusnya. Banyak orang terkejut, misalnya, betapa bisnis online dapat mengalahkan para kapitalis besar di bidang transportasi seperti Go-Car, Gojek, GoFood, GoPay dan lain-lain. Siapa sangka pula Bukalapak dan Tokopedia berkembang sepesat sekarang? Kini nyaris semua serba elektronik, bukan hanya untuk transaksi lembaga-lembaga bisnis dan keuangan, tetapi juga di lembaga-lembaga pemerintahan hingga pendidikan. Perguruan tinggi pun ‘dipaksa’ untuk melaporkan semua data dirinya dan aktivitasnya secara elektronik. Semua serba cepat, mudah dan relatif murah. Seluruh dunia seolah berada di jari-jemari kita belaka,” terangnya.

Namun meski demikian Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA mencermati adanya dampak negatif yang ia sebut sebagai racun saat manusia sering berinteraksi dengan mudahnya di ponsel pintar. “Berbagai penelitian dan renungan yang telah dipaparkan para ahli selama ini mungkin dapat membantu kita untuk mencegah racun-racun di balik manisnya madu teknologi komunikasi ini. Beberapa racun itu adalah: kecanduan, terkikisnya empati, kedangkalan pikiran dan hilangnya kesendirian (privacy),” sebutnya.


Ia memaparkan salah satu dampak nyata dari ponsel pintar adalah kecanduan, yaitu keinginan terus- menerus untuk menggunakannya. Menurut Weisberg, rata-rata orang Amerika menghabiskan 5,5 jam sehari menggunakan media digital, dan lebih dari separuhnya digunakan untuk ponsel.

“Sebuah survei terhadap para mahasiswi di Baylor University menunjukkan, rata-rata mereka menggunakan ponsel 10 jam sehari. Tiga perempat dari anak-anak muda usia 18 hingga 24 tahun mengaku, saat bangun tidur, yang pertama sekali diperiksa adalah ponsel. Setelah bangun tidur, rata-rata orang membuka ponselnya sebanyak 221 kali sehari. Belum lama ini, Thomas Hidya Tjaya menulis artikel berjudul “Facebook dan Hasrat Kita” di Kompas di mana dia menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga setelah Filipina dan Brasil dalam kategori penggunaan media sosial, yaitu selama tiga jam 23 menit per hari,” paparnya.

Lebih parahnya lagi menurut Rektor UIN Antasari ini, ponsel juga pelan-pelan menjadi pengasuh anak-anak. Karena orangtua sibuk, sebagai kompensasi, anak diberikan ponsel. Kadangkala, anak juga diberi ponsel agar tidak mengganggu orangtua yang ingin beristirahat atau bekerja. Mesin tanpa hati dan jiwa itu mulai menggantikan fungsi manusia. Akibatnya, anak-anak yang belum dewasa itu tenggelam dalam dunia maya dan sulit keluar.


Lantas bagaimana cara agar para pengguna ponsel pintar dapat lebih pintar dan smart daripada ponselnya sehingga terbebas dari dampak negative di atas?

Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA memberikan tipsnya dengan mengatakan kita harus berlatih mengendalikan diri.

“Semua dampak negatif seperti kecanduan, terkikisnya empati, kedangkalan pikiran dan hilangnya kesendirian, tidak boleh kita biarkan melindas hidup kita. Agar tidak kecanduan, kita harus berlatih mengendalikan diri. Misalnya, kita mengharamkan penggunaan ponsel saat makan bersama keluarga. Inilah yang dilakukan Steve Job pada keluarganya. Kita juga perlu melarang anak-anak menggunakan ponsel sampai mereka cukup dewasa. Inilah yang dilakukan para pakar teknologi yang bekerja di Yahoo, Apple, dan Google.Agar empati tidak terkikis, kita harus lebih mengutamakan percakapan langsung jika hal itu mungkin, lebih-lebih yang menyangkut masalah-masalah serius. Bertatap muka dan berdialog akan lebih memanusiakan diri kita,” ujarnya.

Ia berharap pengguna ponsel pintar untuk dapat melakukan detoksifikasi dalam dirinya dan menyingkirkan racun-racun di media sosial. Ponsel pintar jangan sampai membuat kita bodoh, tetapi sebaliknya, membuat kita lebih pintar.#Tamam

News Feed