by

Dr. Muchlis M. Hanafi, MA: Awas Salah Terap Tafsir Ayat

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Dr. Muchlis M. Hanafi, MA, memberi kuliah umum dengan tema Moderasi Islam : Solusi untuk Kehidupan Keberagaman yang Pluralistik di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, Kamis (30/8/2018).


Kuliah umum ini terselenggara atas dukungan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) dan Kementerian Agama Wilayah Kalimantan Timur.

Di hadapan Rektor, Dosen serta ratusan mahasiswa IAIN Samarinda yang hadir, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang juga penerjemah presiden RI saat Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud datang ke tanah air beberapa waktu lalu ini menyampaikan bahwa Moderasi Islam ingin menampilkan metodologi berfikir, berperilaku, bersikap yang mempertimbangkan berbagai hal. Sehingga solusi yang diberikan tidak bertentangan dengan ajaran agama dan realitas masyarakat. Sebab ajaran Islam sebagian ajarannya terutama yang terkait muamalat bersifat global dan menggariskan prinsip-prinsipnya saja.


“Indonesia ini dikaruniai Allah dengan berbagai kekayaan baik itu berupa kekayaan etnik, keindahan, keragaman, pulau, bahasa dan suku. Kita bersyukur para pendiri bangsa ini memberikan rumusan Bhineka Tunggal Ika sehingga yang beragam itu dapat bersatu padu. Tantangan yang dihadapi saat ini makin berat terutama terkait tentang kehidupan keberagamaan,” tuturnya.

Dr. Muchlis M. Hanafi, MA juga menyampaikan latar belakang persoalan yang melandasi pentingnya terus mengembangkan pola moderasi Islam saat ini. Menurutnya saat ini umat Islam menghadapi tantangan internal maupun eksternal.

“tantangan internal berlatar belakang politik, ekonomi dan pendidikan sedang secara eksternal tuduhan sebagaimana dialamatkan kepada Islam juga makin gencar sebagaimana terorisme, radikalisme dan sebagainya,”sebutnya.

Menurutnya sentiment keagamaan menjadi unsur pokok yang harus diwaspadai setiap umat Islam karena melalui jalan ini dapat menjadi boomerang bagi kesatuan dan persatuan bangsa.


“Indonesia sangat berpotensi besar untuk diadu domba, dipecah-belah dengan menggunakan isu keagamaan. Pola yang digunakan untuk memecah timur tengah sebagaimana diketahui dengan cara membangkitkan kelompok minoritas dan dibenturkan dengan kelompok tertentu,” ungkapnya.

Untuk itu Dr. Muchlis M. Hanafi, MA mengemukakan solusinya yakni Umat Islam harus mampu melakukan counter narasi terkait pemahaman Keislaman yang disalah gunakan atau tafsir ayat yang disalah terapkan.

“Ini tantangan bagi kita bersama, pola fikir yang cenderung tekstualis, cenderung parsial akan terus mengemuka dan itu pemicu sikap radikalisme berkembang. Maka moderasi Islam berusaha menyeimbangkan antara teks dengan realitas, antara nalar dengan teks,”ujarnya.#tamam

News Feed