by

Tanamkan Modernisasi Pendidikan Dengan Pendidikan Multikultural, FTIK Gelar Seminar Nasional

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan sukses selenggerakan Seminar Nasional dengan tema Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Pendidikan Multikultural. Acara yang digelar di auditiorium 22 Dzulhijjah ini di hadiri oleh para dosen, ratusan mahasiswa FTIK IAIN Samarinda, dan Kepala Sekolah Se Kaltim dan Kaltara dengan mendatangkan narasumber yakni Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd., selaku Rektor IAIN Samarinda Dr. H. Badrudin, M.Ag., Ketua Umum Asosiasi Profesi Perma Pendis Indonesia, Dr. H. Hasan Baharun, M.Pd. Dekan Fakultas Agama Islam UNUJA dan Ahmad Muthohar, M.SI., Kabid. Pembinaan Ketenagaan DISDIKBUD Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (08/10/2019).

Ketua Panitia Sekaligus Wakil Dekan III FTIK Dr. Zamroni, M.Pd. mengungkapkan bahwa Seminar Nasional digelar karena Lembaga Pendidikan Tinggi Islam merupakan ujung tombak dalam menangkal Radikalisme yang marak terjadi saat ini, sehingga IAIN Samarinda melakukan penangkalan dengan mengedepankan Pendidikan Multikultural.

“Sesuai dengan tema agenda seminar nasional hari ini, IAIN Sebagai lembaga pendidikan islam mendorong diterapkannya nilai-nilai multikultural, karena radikalisme sendiri itu disebabkan oleh tidak adanya nilai-nilai multikultural.” terang beliau disela acara seminar nasional berlangsung.

Dr. M. Eka Mahmud, M. Ag selaku Dekan FTIK IAIN Samarinda dalam sambutannya mengatakan modernisasi Lembaga Pendidikan islam bisa diraih melalui pola kepemimpinan terbuka. Kepepiminan yang ia maksud adalah kepemimpinan transformatif. Dengan pola ini, di masyarakat tidak ada lagi perbedaan latar belakang suku, bangsa dan warna kulit.

“modernisasi Lembaga pendidikan Islam bisa melalui dengan pola kepemimpinan terbuka, kalau dalam teori manajemen Pendidikan kita kenal dengan transfomatif, membuka segala lini tanpa melihat latar belakang baik suku, bangsa dan warna kulit” Pungkasnya.

Acara ini dibuka langsung oleh Rektor IAIN Samarinda Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd, dalam sambutannya beliau menilai Pendidikan multikultural bukanlah hal yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia tinggal bagaimana kemudian masyarakat mampu mengamalkan Bhinneka Tuggal Ika yakni hidup berbeda tetapi satu di tengah keberagamaan saat ini.

”multikultural bukan lagi hal asing bagi kita tinggal bagaimana kemudian kita mampu hidup berbeda-beda tetapi tetap satu, hidup dengan damai di tengah-tengah keberagamaan saat ini” Terangnya.

Sementara itu, dalam materinya beliau memaparkan melalui jalur pendidikan, didesain dan ditanamkan nilai-nilai multikultur seperti kebersamaan, toleran,dan mampu menyesuaikan diri dalam berbagai perbedaan Pendidikan multikultural berisikan tentang tema-tema mengenai toleransi, perbedaan ethno-cultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, hak asasi manusia, demokratisasi, kemanusiaan universal, dan subjek-subjek lain yang relevan.

“dengan melalui jalur pedidikan bisa didesain dan ditanamkan nilai multikultur tentang tema-tema toleransi, perbedaan, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, hak asasi manusia, demokratisasi, kemanusiaan universal, dan subjek-subjek” tutup Rektor IAIN Samarinda.

Disusul dengan Dr. H. Badrudin, M. Ag dalam materinya menjelaskan sifat dari multikultutal yakni mengakui dan menghargai perbedaan dalam kesederajatan, sifat ini tumbuh dari paham multikulturalisme, yaitu cara pandang tentang keberagaman kehidupan yang menekankan penerimaan terhadap realitas perbedaan -agama, budaya, dan worldview- yang terdapat dalam masyarakat.

“jadi sifat multikultural itu harus menghargai perbedaan antar sesama, jika sifat ini terinternalisasi pada diri kita, maka kita akan saling menghormati dalam kebersamaan” terangnya.

Selain itu, Dr. KH. Hasan Baharun, M. Pd juga menjelaskan tantangan Pendidikan di era multikulturalisme mengancam integritas bangsa.

“Tantangan pendidikan multikulturalisme dewasa ini, mengancam integrasi bangsa indonesia. Diperlukan pemahaman yang menyeluruh terkait dengan benih disintegrasi, mulai dari munculnya berita hoax, mendewakan Google, menjadikan popularitas sebagai guru dibandingkan dengan ahlinya”. Ungkap Dekan Fakultas Agama Islam UNUJA dalam penyampaian materi.

 Disusul oleh Ahmad Muthohar, M. SI dalam materinya beliau mengatakan kenyataannya berpedaan di masyarakat masih sering terjadi terutama pada persoalan latar belakang kelompok. Menurut beliau hal ini tidak semestinya lagi dipersoalkan bagi umat muslim karena ajaran Islam mengajarkan nilai kebersamaan.

“masih sering kitajumpai persoalan perbedaan kelompok di masyarakat, harusnya kita tidak lagi mempersoalkan itu, karena islam sendiri mengajarkan kita nilai-nilai kebersamaan” tutur Ahmad Muthohar, M. SI. Kabid. Pembinaan Ketenagaan DISDIKBUD Provinsi Kalimantan Utara.#i/humas/iainsmd

News Feed