by

Akhmad Muadin Sukses Raih Gelar Doktor di IAIN Jember

JEMBER, IAINNEWS,-Akhmad Muadin dosen muda Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda Kalimantan Timur resmi menyandang gelar Doktor dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Jawa Timur di tengah merebaknya pandemik korona yang melanda dunia, Senin siang (20/4/2020).

Akhmad Muadin berhasil menjalani sidang terbuka disertasinya secara online via aplikasi Zoom dan streaming Youtube.

Disertasi berjudul Implementasi Manajemen Perubahan Sumber Daya Manusia di Pesantren Nabil Husein Samarinda dipresentasikan dan dipertahankan dengan amat baik dihadapan Prof. Dr. H. Babun Soeharto, SE. M.Pd., Prof. Dr. H. Abd Halim Soebahar, M.A., Prof. Dr. H. Moh Khusnuridho, M.Pd., , Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd., Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag. Prof. Dr. Hj. Titiek Rohanah Hidayati, M.Pd, Dr. H. Suhadi Winoto, M.Pd. dan Dr. H. Aminullah, M.Pd..

Dalam disertasinya, Akhmad Muadin memaparkan bahwa untuk menjaga identitasnya sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang khas, Pesantren dituntut agar mempertahankan budaya dan tradisi Pesantren terutama dalam hal penguasaan kutub at-turāth (kitab kuning) namun dilain pihak, Pesantren juga dituntut untuk adaptif terhadap perubahan sebagai repon atas modernitas dan tuntutan masyarakat yang semakin pragmatis.

“Perubahan SDM di Pesantren sebagai upaya Pesantren melakukan pensejajaran antara kebutuhan internal dengan tuntutan modernitas. Namun sebagaimana prinsip perubahan berlaku datangnya yang baru akan mengurangi atau menghilangkan yang lama. Modernitas telah membawa Pesantren pada titik persimpangan dimana tradisi keilmuan ditegakkan dan budaya dilestarikan,” paparnya.

Melalui disertasinya Muadin menyoroti pola Pendidikan terbuka yang dilakukan oleh Pesantren. Menurutnya pola Pendidikan terbuka di Pesantren berkonsekuensi terhadap lunturnya beberapa budaya dan tradisi Pesantren. Di era modernitas seperti sekarang ini Lembaga Pendidikan termasuk didalamnya Pesantren berlomba-lomba untuk dapat memberikan layanan terbaiknya kepada masyarakat selaku pengguna jasa Pendidikan. Pragmatism masyarakat telah mengantarkan Pesantren menemui sejumlah tantangan pengembangan Pendidikan ala Pesantren. Jika tidak cermat, situasi seperti ini justru akan membawa Pesantren kehilangan identitasnya sebagai Lembaga Pendidikan yang indigenous.

Masuknya variabel ekonomi kedalam Pesantren mampu menggeser orientasi tradisi keilmuan Pesantren. Tuntasnya belajar di Pesantren tidak lagi ditentukan oleh seberapa fasih santri menguasi bidang keilmuan tertentu, melainkan telah dibatasi oleh waktu yang ditandai dengan penerimaan ijazah. Terlebih pemerintah telah berhasil mengkaitkan antara Pendidikan dengan orientasi kerja. Pendidikan yang berlangsung di Pesantren tidak lagi berorientasi kepada khazanah membangun tradisi keilmuan, melainkan untuk mengisi sector-sektor birokrasi dan tenaga kerja lainnya.

Fenomena masyarakat telah berubah, yang tentu saja harus diikuti oleh Pesantren. Dahulu masyarakat menimba ilmu di Pesantren tidak pernah berorientasi pada pekerjaan melainkan untuk membangun tradisi keilmuan. Sekarang untuk membangun tradisi keilmuan masyarakat harus banyak diberikan motivasi. Pesantren harus bekerja keras untuk menjaga cita-cita mulia pesantren sebagai Lembaga Pendidikan islam dan pencetak kader ulama.

Undang-undang No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah mengamanahkan tiga fungsi dasar Pesantren yaitu sebagai Lembaga Pendidikan islam yang khas, sebagai Lembaga dakwah dan sebagai Lembaga pemberdayaan masyarakat. Tiga fungsi itulah yang membedakan antara Lembaga Pendidikan Pesantren dengan Lembaga Pendidikan lainnya.

Kecenderungan pasar dan intervensi Pemerintah kedalam Pesantren berdampak pada perubahan SDM. Guru di Pesantren tidak hanya dituntut memiliki sejumlah kompetensi yang menunjang profesinya, beban kerja guru yang tinggi menuntut guru di Pesantren harus memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan tugasnya. Sebagai sebuah sistem, perubahan SDM dipengaruhi oleh driving forces melalui persiapan, pelaksanaan dan pemantapan hasil perubahan. Perubahan SDM sebagai sarana dalam pensejajaran (aligment) antara kebutuhan publik internal dan eksternal (modernitas).

Terkait ujian disertasi yang dijalaninya, Akhmad Muadin mengaku tidak terlalu menemukan banyak kendala. “Alhamdulillah diberi kemudahan oleh Allah SWT. Sekarang sudah lega. Semoga penelitian ini mendatangkan keberkahan bagi semua orang. Amien,” ujarnya.

Rektor IAIN Samarinda Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd mengaku sangat bangga dan menyambut gembira pencapaian Akhmad Muadin dalam menuntut ilmu di IAIN Jember.

“Terimakasih banyak kepada sivitas akademika IAIN Jember atas kesempatan belajar bagi Akhmad Muadin. Semoga pencapaian Akhmad Muadin mendatangkan kontribusi besar dan keberkahan bagi IAIN Samarinda,” ungkapnya.#

News Feed