by

H. Khairi Abusyairi, Lc., M.A.: Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19 Dalam Perspektif Tauhid

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Dalam menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan, semestinya kaum muslim tetap sabar dan Istiqomah meskipun dilanda cobaan Covid-19. Menurut H. Khairi Abusyairi, Lc., M.A., jika fenomena pandemi Covid-19 bersamaan Ramadhan tahun ini dipandang dalam perspektif tauhid, maka kejadian tersebut merupakan kejadian biasa saja dari Allah SWT.

“Kita harus tetap sabar dan istiqomah dalam menghadapi bulan Ramadhan tahun ini, dalam rangka meraih ketakwaan di sisi Allah SWT., dan keberkahan bulan Ramadhanamadhan itu sendiri, meskipun di sisi lain kita sedang diuji dengan situasi pandemi Covid-19. Jika dilihat dari perspektif akidah, dua kejadian dalam satu waktu tersebut bukanlah kebetulan, yang terpenting adalah, kita yakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini merupakan ketetapan Allah yang sudah ditakdirkan”. Paparnya

Hal tersebut dipaparkan dalam siaran langsung TV Islamic Center Kalimantan Timur. Program Umpat Betakun. Senin (11/4/2020).

Lebih lanjut beliau menjelaskan, segala sesuatu yang sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi termasuk penyebaran wabah Covid-19 adalah sesuatu yang telah dituliskan Allah SWT., di Lauhul Mahfudz dan kejadian itu bukan peristiwa kebetulan akan tetapi telah direncanakan olehNya.

Bagi kaum muslim, menghadapi Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 secara umum muncul dua pandangan yang berbeda. Pertama pandangan yang menerima Ramadhan bersamaan Covid-19 merupakan takdir Allah dengan sikap pasrah tidak ada usaha untuk mencegah atau menanggulanginya sebab ia meyakini bahwa tidak ada peran manusia dalam ketentuan takdir di alam ini sehingga dalam menghadapi Covid-19 tersebut ia cenderung cuek/tidak peduli (jika ditakdirkan terkena Covid-19 ya pasti terkena, jika ditakdirkan tidak terkena Covid-19 ya pasti tidak terkena), namun ada pula yang menyakini bahwa manusia berkuasa atas dirinya sendiri. Manusia bebas menentukan tindakannya sendiri, apakah mau berbuat baik atau buruk. Untuk itulah manusia dikenai dosa dan pahala atas tindakannya. Terkait wabah Covid-19, ia berpandangan bahwa manusia bisa dan mampu untuk mengendalikannya. Manusia bebas menentukan apakah mau terinfeksi Covid-19 atau tidak. Jika tidak mau terinfeksi maka ikuti seruan pemerintah untuk social distancing, pysical distancing dan PSBB.

“Dalam teori ilmu Kalam, kita tahu ada yang berpandangan Jabariyah, mereka pasrah dalam menerima takdir, sebab baginya tidak ada peran manusia dalam ketentuan Allah SWT. Namun sebaliknya, adapula kolompok Qadariyah yang justru meyakini bahwa manusia itu berkuasa atas takdirnya sendiri. Mereka meyakini bahwa manusia bisa merubah takdir Allah dengan jalan usaha semaksimal mungkin. Demikian penjelasan H. Khairi Abusyairi, Lc. M.A., salah satu Dosen IAIN Samarinda.#humasiainsmd.

News Feed