by

Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd., Sang Rektor Pembawa Perubahan

Oleh: Riswadi

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Masyarakat Kalimantan Timur perlu berbangga hati, karena tidak lama lagi akan menjadi Ibukota Negara (IKN) Republik Indonesia. Hal tersebut telah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu. Kebanggaan masyarakat tercermin dari eiuforia yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang mengekspresikan kebahagiaan itu dengan berbagai cara antara lain dengan syukuran, memasang spanduk, baliho, poster, dan ucapan di media sosial maupun media cetak dan elektronik.

Namun kebanggaan tersebut sebaiknya tidak hanya sebatas eiuforia, alangkah baiknya dengan mempersiapkan kapasitas diri, skill, pengetahuan, pengembangan jaringan, penciptaan lapangan kerja dan kemampuan membaca peluang dalam pengembangan daerah yang akan menjadi IKN Republik Indonesia.

Untuk mempersiapkan generasi yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang mumpuni untuk menyongsong hadirnya IKN Republik Indonesia di Kalimantan Timur, tentu peran Perguruan Tinggi menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam penyiapan sumber daya manusia agar tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri. Salah satu Perguruan Tinggi yang telah siap untuk mewujudkan keinginan dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur adalah IAIN Samarinda, yang merupakan Perguruan Tinggi Islam Negeri yang Unggul dan Terdepan dalam Pengembangan Peradaban Islam.. Satu-satunya Perguruan Tinggi Islam Negeri yang saat ini telah banyak memberikan kontribusi dalam penyiapan SDM yang siap dalam pembangunan daerah.

Dalam waktu dekat IAIN Samarinda akan bertranformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Perubahan tersebut bukan hadiah dari Pemerintah Pusat karena Kalimantan Timur akan menjadi IKN Republik Indonesia, akan tetapi memang layak dan memenuhi syarat berdasarkan penilaian Tim yang ditugaskan oleh Presiden. Kelayakan tersebut merupakan kerja keras civitas akademika, dukungan Pemerintah Daerah, serta dukungan masyarakat Kalimantan Timur agar dapat terwujudnya Perguruan Tinggi Islam Negeri yang akan menjadi Pusat Peradaban Islam dan menjadi Destinasi Studi Islam Dunia. Sehingga kita tidak begitu mudah diinfiltrasi oleh gerakan radikal dan intoleran karena dibina oleh Pendidikan Islam yang moderat.

Keberhasilan IAIN Samarinda saat ini, tidak terlepas dari sosok Sang Rektor Pembawa Perubahan, yakni Prof. Dr. M. Ilyasin, M.Pd. yang berhasil membawa STAIN Samarinda menjadi IAIN Samarinda pada tahun 2014 hingga sekarang dan akan alih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di Kalimantan Timur yang Insyaalloh pada tahun 2020 ini. Keberhasilan Sang Rektor untuk bertransformasi dari STAIN ke UIN tidaklah mudah, penuh perjuangan, kebersamaan/kekompakan, kerja keras, komunikasi yang efektif, managerial yang tangguh, keteladanan, visi yang jelas dan terukur, komitmen yang tinggi, kompetensi dalam memimpin, karakter yang kuat, memiliki jiwa perubahan, keberanian, fokus pada tujuan, semangat yang tinggi, sikap positif, tanggung jawab, mau mendengar, kemurahan hati, memiliki inisiatif yang tinggi, disiplin diri, melayani, dan mampu menyelesaikan masalah. Oleh karenanya IAIN Samarinda sangat pesat perkembangannya yang saat itu hanya satu kampus sekarang menjadi dua kampus dan memiliki dua puluh satu program studi untuk sarjana dan pasca sarjana, dan semuanya telah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Jumlah mahasiswanya pun juga bertambah pesat, dibawah kepemimpinan Sang Rektor Pembawa Perubahan yang saat itu saya kenal sejak mahasiswa beliau adalah Pemimpin Proyek Pembangunan Perpustakaan di Kampus Jl. Abul Hasan.

Kita tahu bahwa tantangan Pengembangan Pendidikan Tinggi Islam saat ini antara lain, Pertama, Modernitas Kelembagaan (berkembang menjadi institusi modern, namun tetap dapat memperkuat akar dan tradisi Islam), Kedua, Peningkatan Mutu Kelembagaan (Meningkatkan mutu dan memperkuat kelembagaan pendidikan tinggi Islam yang terbuka, modern, empiris-kontekstual, dan produktif), Ketiga, Penciptaan Lulusan Berkualitas (Melahirkan lulusan berkualitas, berdaya saing, menguasai iptek dengan tetap merujuk pada nilai-nilai Islam), Keempat, Pengembangan Pemikiran Islam (Melahirkan pemikiran Islam moderat, progresif, dan inklusif melalui pengembangan dialog). Dengan berbagai tantangan yang cukup berat ini diperlukan kepemimpinan yang kuat, sehingga mampu mewujudkan gagasan dan keinginan seluruh masyarakat Kalimantan Timur khususnya dan masyarakat secara umum dalam menyongsong Ibukota Negara RI.

Dengan demikian dalam rangka untuk menjawab tantangan Pendidikan Tinggi Islam tersebut diperlukan gagasan dan aksi nyata Sang Rektor yang selama ini telah berkiprah dan terbukti dalam mengemban amanah kepemimpinan yang diemban. 

Gagasan Dan Aksi Sang Rektor Dalam Perubahan

Gagasan dan Aksi Sang Rektor untuk mewujudkan Perubahan di IAIN Samarinda, menurut pengamatan penulis dan diskusi dengan beberapa dosen serta karyawan, tentu ini hanya mewakili saja dan masih banyak lagi keberhasilan yang telah ditorehkan. Karena penulis merupakan alumni pada tahun 2006 dan pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa saat itu, sehingga sedikit banyak dapat melakukan penilaian. Dan sekarang menjadi Pegawai di IAIN Samarinda yang memang awalnya keinginan saat daftar pertama kali tes CPNS memilih di STAIN Samarinda, ternyata kehendak Alloh swt dipertemukan dengan sosok pemimpin Sang Rektor Pembawa Perubahan  yang telah memiliki Gagasan dan Aksi Nyata antara lain 1) Alih Status Kelembagaan STAIN–IAIN-UIN, 2) Pengembangan Infrastruktur Kampus, 3) Peningkatan Jumlah Prodi dan Mahasiswa 4) Pembelajaran Yang Bermutu dan Prestasi Akademik, 5) Terwujudnya Kondusifitas Kampus, 6) Menjadi Kampus Hijau (Green Campus),  7) Menjadi Kampus Berkelas Dunia (World Class University), 8) Menjadi Kampus Berbasis Riset, dan 9) Kerjasama Kelembagaan dengan Lintas Sektoral.

Disisi lain, dalam rangka untuk menjadi semangat dalam membangun kampus Sang Rektor merumuskan Motto: Spiritualitas, Intelektualitas dan Profesionalitas. Motto ini menjadi pijakan para Civitas Akademika (Pimpinan, Dosen, Tenaga Kependidikan, dan Mahasiswa) dalam melaksanakan amanah dalam menjalankan tugas masing-masing serta mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika motto ini merasuk dalam pikiran dan hati, ucapan dan tindakan, dikampus maupun diluar kampus, maka Insyaalloh akan menjadi Insan Kamil. Keterpaduan spiritualitas (ketaatan dalam menjalankan perintah agama), intelektualitas (kecerdasan intelektual) dan profesionalitas (ahli dalam bidang tertentu atau ahli dalam melaksanakan profesi tertentu), menjadi spirit seluruh civitas akademika dalam mengemban amanah kemanusiaan yang dianugerahkan oleh Alloh SWT, maka akan menjadi seseorang yang sukses dunia maupun akhirat.

Gagasan-gagasan lain beliau, masih sangat banyak yang belum terealisasi, apalagi tantangan berat didepan mata yakni menyongsong Universitas Islam Negeri (UIN) serta menyambut Ibukota Negara Republik Indonesia di Kalimantan Timur. Selamat bekerja Sang Rektor, mudah-mudahan dimudahkan jalannya oleh Alloh swt. Serta mendapatkan keberkahan dalam menjalankan amanah. Selamat atas penganugerahan Guru Besar dalam bidang Manajemen Pendidikan, kami bangga sebagai alumni, sebagai bawahan, sebagai sahabat pergerakan, sebagai senior, sebagai pimpinan, dan sebagai mitra dalam organisasi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur.

Pemimpin yang hebat adalah seorang pemimpin yang mampu melakukan PERUBAHAN dan MAMPU mewujudkan “Gagasan Menjadi Aksi Nyata” dengan suasana Kebersamaan dan Kekompakkan. Janganlah jadi Superman akan tetapi jadilah Superteam. 

Saya Yakin Sang Rektor Memiliki KOMPTENSI karena sudah TERBUKTI:

“Kompetensi adalah lebih dari sekedar kata-kata. Kompetensi adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengatakannya, merencanakannya, dan melakukannya  dengan sedemikian rupa sehingga orang lain mengetahui bahwa ia mengetahui caranya-dan mengetahui bahwa mereka ingin menjadi pengikutnya.” John C. Maxwell.

*Penulis merupakan JFU pada FTIK IAIN Samarinda.#humasiainsmd

News Feed