by

Menyingkap Tema PBAK Virtual IAIN Samarinda

-Berita-1,124 views

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Suasana Pengenalan Budaya Kampus dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Samarinda, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini dilaksanakan dengan virtual karena masa pandemi covid-19. Dan situasi ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya, yang biasanya dapat bertemu secara tatap muka, bercanda, diskusi, curhat, saling membantu dalam suasana kekeluargaan dan kebersamaan sehingga mendapat teman baru yang asyik, lucu dan imut serta baik. Namun tahun ini hanya dapat menyapa secara virtual.

Walaupun secara virtual, kelucuan dan kehangatan juga terasa. Apakah karena sambil minum jahe susu, atau jeruk panas disaat mengikuti kegiatan dengan aplikasi zoom atau via youtube. Bukan, karena memang panitianya menyapa mahasiswa baru dengan baik dan penuh keakraban. Dan mahasiswa baru pun juga rajin, semangat dan ada salah satu mahasiswa yang rusak smartphone nya, rela datang kekampus dan menyimak secara khusus didepan nara sumber, dan katanya nggak sempat sarapan. Saking tanggung jawabnya mengikuti kegiatan PBAK. Untung panitianya membelikan makanan dan dapat snack lagi. Alhamdulillah, Alangkah bahagianya peserta tersebut, apalagi ada kabar di group wahtshapp panitia ada yang akan memberikan handphone dan ikat pinggang.

Saat datang ke kampus, peserta tersebut beruntung kakak panitia tidak menanyakan, “Ikat pinggangnya mana?” dengan teriak-teriak. Seperti yang lagi viral dimedia, yang terjadi di perguruan tinggi saat mengikuti masa pengenalan kampus.

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan di IAIN Samarinda, merujuk Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 4962 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum PBAK. Dalam pedoman tersebut bahwa PBAK memiliki fungsi untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan peserta untuk mengenali dan memahami sistem pendidikan dilingkungan PTKI. Dan kegiatannya sangat menunjang untuk kesiapan secara mental dan kemandirian mahasiswa baru.

Adapun tema yang diusung berdasarkan laman www.iain-samarinda.ac.id tanggal 22 September 2020, “Menuju Mahasiswa yang Unggul Spiritual, Intelektual dan Profesional Untuk Mewujudkan Moderasi Agama dalam Bingkai NKRI”.

Tema ini cukup berat. Dan tidak mungkin akan dicapai dalam empat hari, mustahil. Namun harus dicapai selama mahasiswa studi di IAIN Samarinda. Bahkan bisa jadi sampai lulus pun harus terus mengupayakan agar tema ini menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak, karena tema ini adalah bagian dari motto IAIN Samarinda yang harus menjadi penyemangat dalam aktifitas didalam kampus maupun diluar kampus.

Yuk, kita singkap tema PBAK IAIN Samarinda !!
Unggul, menurut KBBI memiliki arti lebih tinggi (pandai, cakap, kuat, awet, dan sebagainya) daripada yang lain-lain; utama (terbaik, terutama). Diharapkan mahasiswa dan seluruh civitas akademika dapat menjadi manusia yang unggul. Manusia yang memiliki berbagai kelebihan. Dan keunggulannya bisa lebih dari satu bidang keahlian, dan memiliki orientasi yang terdepan dan berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut dalam hal penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan skill dalam menyelasaikan persolan dengan cepat dan tepat serta kemampuan inovasi dalam menciptakan hal yang baru.

Menurut Ari Kurniawan (2012) bahwa indikator manusia unggul antara lain:

  1. Memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, untuk peningkatan derajat dan martabatnya;
  2. Berorientasi masa depan, kerja keras, teliti, hati-hati, menghargai waktu, penuh rasa tanggung jawab, dan berorientasi pada prestasi (achievement oriented) dan bukan prestige semata;
  3. Mempunyai cita-cita, visi dan misi, dalam kehidupan;
  4. Memiliki keunggulan kompetitif, komparatif, dan keunggulan inovatif;
  5. Taat hukum, menghargai hak asasi manusia, dan menghargai perbedaan (pluralism);
  6. Memiliki rasa tanggung jawab, karena “semua masalah dalam kehidupan harus dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab (responsibility) dan penuh dengan perhitungan (accountability);
  7. Bersikap rasional, menghargai waktu, memperhatikan masa depan (membuat perencanaan hidup) dan perubahan, kreatif, dan berkarya execelence”, sehingga tercipta “manusia madani” dalam arti manusia yang berbudaya tinggi.

Keunggulan ini bisa diraih tentu melalui proses yang melelahkan dan memerlukan semangat yang tinggi. Dan tahapannya melalui PBAK, perkuliahan, dan ketika bersosialisasi di masyarakat. Jadi diharapkan mahasiswa IAIN Samarinda dapat menjadi manusia yang unggul, sehingga dapat survive di masyarakat dan sukses dalam karir dan profesinya masing-masing.

Unggul Spiritual, Intelektual dan Profesional

Keunggulan dalam bidang spiritual akan menuntun seseorang menuju keselamatan didunia dan akhirat. Sebab apabila kita kering dalam spiritual, akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh gemerlapnya dunia yang akan membawa kesesatan. Ulama besar Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah sebuah kemampuan untuk menemukan makna hidup. serta memperoleh budi pekerti.

Hagar (2020) juga menyatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan jiwa yang digunakan untuk mengetahui keberadaan kita hidup didunia dan posisi manusia sebagai seorang hamba dihadapan Allah.

Sehingga menurut penulis bahwa kecerdasan spiritual merupakan upaya yang dilakukan oleh manusia dalam mengoptimalkan segala potensi yang ada agar dapat menemukan hakikat hidup, darimana kita hidup, untuk apa kita hidup, bagaimana kita hidup, sampai kapan kita hidup, dan siapa yang menghidupkan kita, serta sadar diri bahwa kita ini adalah seorang hamba yang harus menyembah dan beribadah kepada Allah swt.
Kalau kita sudah menyadari bahwa hanya seorang hamba, tentu kewajiban kita atas perintah yang diberikan oleh Allah swt. Patut dijalankan dengan hati yang ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Disamping unggul spiritual, mahasiswa IAIN Samarinda juga dituntut untuk memiliki keunggulan dalam Intelektual. Secara sederhana dapat didefinisikan sosok yang memiliki pengetahuan yang luas, menjadi teladan, berpendidikan, kaum terpelajar, berakal dan berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Berdasarkan Kamus Bahasa Inggris-Indonesia (John M. Echols, 1989) intelektual diartikan sama dengan cendekiawan, cerdik dan pandai.

Dengan demikian seorang mahasiswa, dituntut untuk berlatih, belajar, berpikir dalam rangka untuk mengasah logika dan rasio agar memiliki kemampuan intelektual dalam logika abstrak, kemampuan verbal, sosial, numeric, tekhnik, serta daya ingat/memori.

Seseorang yang memiliki keunggulan intelektual akan dapat menuntun seseorang lebih bijaksana, tidak gampang menyalahkan, serta berbicara berdasarkan teori dan keilmuan yang dimiliki. Sehingga pendapatnya dapat dipertanggungjawabkan dan berlandaskan refferensi yang kuat.

Tidak cukup itu saja, panitia PBAK juga menambahkan dengan Profesional, KBBI mendefinisikan Profesional adalah yang menangani dengan profesi yang membutuhkan kepandaian khusus dalam menjalankannya. Sedangkan menurut Kusnanto, professional adalah seseorang yang memiliki kompetensi dalam satu pekerjaan tertentu. Sedangkan menurut penulis bahwa seseorang yang memiliki keahlian tertentu yang diperoleh dari pendidikan, latihan, pengalaman sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Professionalitas dapat terwujud apabila seseorang tersebut rajin dan disiplin untuk berlatih dan berikrar untuk menuju perubahan.

Ketika mahasiswa sudah berikrar untuk belajar di IAIN Samarinda, maka akan mendapatkan amanah baru yakni menjaga nama baik almamater dan siap mengemban tanggung jawab moral serta agama. Yang dilandasi dengan misi dakwah dan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, menghargai budaya dan ummat lainnya. Terang Rektor IAIN Samarinda pada saat pembukaan PBAK Virtual.

Mewujudkan Moderasi Agama dalam Bingkai NKRI

Semua agama pada dasarnya adalah moderat, hanya pemeluknyalah yang menarik kedalam pandangan dan perilaku radikal. Moderasi adalah komitmen kepada agama apa adanya. Tanpa dikurangi atau dilebihkan. Agama dilakukan dengan komitmen penuh, dengan mempertimbangkan hak-hak vertikal (ubudiyah) dan hak-hak horizontal (ihsan). Atau dalam kata lain tawazun (seimbang).

Keseimbangan itu diperlukan agar kita tidak ekstrem kiri ataupun ekstrem kanan. Moderasi Beragama bisa dimaknai cara pandang kita dalam beragama secara moderat. Yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem kanan ataupun kiri.

Disisi lain, dalam pengamalan ajaran agama agar tercipta kerukukan antar ummat beragama telah dikeluarkan Peraturan Menteri Agama No. 18 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kemenag tahun 2020-2024, dimasukkan gagasan moderasi beragama secara teoritik memiliki empat indikator yakni komitmen kebangsaan, anti kekerasan, akomodatif terhadap kebudayaan lokal dan toleransi. Dan kita patut bersyukur bahwa Moderasi Beragama menjadi program nasional.

Menurut Zakaria Syihabuddin (2020), ada empat aspek moderasi Islam, Pertama, Al adalah. Menyerahkan amanah kepada yang berhak dan menegakkan hukum dengan adil. Kedua, al Tasamuh, melaksanakan toleransi agama secara benar. Kita harus menghormati perbedaan agama dan tidak mencela keyakinan agama umat lain. Ketiga, al Tawazun, menjaga keseimbangan, mengedepankan keserasian, dan keselarasan dalam beragama. Keempat, al Taharum, menebarkan kasih sayang, persahabatan, cinta kepada sesama. Sehingga kehadiran Islam sebagai agama yang Rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta), utamanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NKRI memiliki keragaman suku, budaya, agama, ras, antar golongan atau majemuk. Dan Islam memandang bahwa perbedaan itu merupakan sunnatullah untuk saling mengenal dan silaturrahim. Kemajemukan itu harus menjadi kekuatan bangsa kita. Oleh karenanya harus dijaga, dirawat, dibela dan dipelihara agar kedamaian tetap terus terwujud.

Untuk mewujudkan kedamaian tersebut diperlukan wawasan kebangsaan generasi millennial, utamanya para mahasiswa baru. Menyitir ungkapan yang disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj bahwa kita ini adalah orang Islam yang tinggal di Indonesia BUKAN orang Indonesia yang kebetulan beragama islam. Artinya, kalau kita orang Islam yang tinggal di Indonesia maka ibaratnya negara ini adalah rumah besar kita. Rumah yang menjadi tempat hidup dan kehidupan, mencari rezeqi, ibadah, bekerja, belajar, dll. Tentu agar kita nyaman untuk melakukan aktifitas tersebut maka harus dijaga NKRI yang kita cintai ini.

Kegiatan PBAK IAIN Samarinda dengan tema yang sudah penulis uraikan, tentu menjadi tantangan seluruh mahasiswa. Bagaimana dapat mengupayakan cita-cita dan keinginan panitia dan pimpinan agar dapat memenuhi harapan semuanya. Apalagi IAIN Samarinda akan bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Tentu tantangan semakin berat, kompetitor semakin ketat. Dan diperlukan kerja keras, semangat, giat dan tekun belajar, disiplin, kreatifitas yang tinggi agar menjadi mahasiswa yang unggul spiritual, intelektual dan professional. Semoga.

“Kelemahan terbesarmu adalah ketika kamu menyerah dan kehebatan terbesarmu adalah ketika kamu mencoba sekali lagi”.

#Oleh Riswadi, M.Pd., merupakan ASN pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Samarinda Kalimantan Timur.

News Feed