by

Delapan Belas Pakar Dunia Sampaikan Inovasi Pendidikan Pada Virtual International Conference (VIC) IAIN Samarinda

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Perhelatan Virtual International Conference (VIC) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda yang digelar selama tiga hari sejak 16-18 September 2020 berlangsung sangat spektakuler, pasalnya selain diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai negara, juga diikuti oleh delapan belas pakar lintas benua sebagai pembicara secara paralel terkait inovasi pembelajaran pendidikan tinggi pada era new normal.

Kedelapan belas narasumber yang dimaksud tersebut antara lain: Dr. Umar Fauzan (Indonesia), Prof. Roy Anderson (Pakistan), Cris T. Zita, MaedSMRJEdr (Philippines), Dr. Atul Patil (India), Associate Prof. Dr. Sherif Mohamed Ismail (Egypt), Dr. Fuad Fansuri (Indonesia), Jestoni P. Carpio, Ed.D., D.Litt (Philippines), Judy Thomas, Dr. Amitabh Vikram (India), Dr. K.J Vargheese (India), Dr. Muhammad Mujtaba Asad (Pakistan), Dr. Amir Abas (Pakistan), Dr. Abdelkader Makhlouf (Algeria), Mohammed Galal Mohammed (Qatar), Dr. Mohamed Samir Nada (Egypt), Dr. Ahmad Alqatan (Kuwait), Dr. Andi Asrifan (Indonesia), dan Dr. Muthmainnah (Indonesia).

Dalam pemaparannya, Dr. Umar Fauzan yang merupakan Dosen IAIN Samarinda  menyampaikan pentingnya Pembelajaran Berbasis Riset. Bagi Umar Fauzan Pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap pendidikan secara global. Untuk itu perlu menciptakan inovasi pembelajaran berbasis riset supaya kualitas pembelajaran bisa terus meningkat tidak peduli kondisi masyarakat seperti apa.

“Diketahui bahwa Pandemi Covid-19 ini memberikan dampak terhadap proses pendidikan kita secara global. Namun saya sangat meyakini bahwa di balik itu, pendidikan ini pasti memiliki banyak cara dalam penyelenggaraannya khususnya di lingkungan pendidikan tinggi meskipun di era pandemi”. Katanya.

“Sebagai seorang akademisi tentu saja kita tidak asing lagi yang namanya riset atau pembelajaran berbasis riset. Hal ini bisa saja dimulai dari menemukan masalah dulu, rasa penasaran, keinginan untuk mengatahui sesuatu yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata di era pandemi ini sehingga terjadilah suatu inovasi baru. Akan tetapi semua harus didasari dengan data dan menganalisis temuannya untuk disimpulkan. Terakhir, kita bias menuliskannya ke dalam artikel dan menjadi pembicara di seminar atau presentasi akademik”. Jelas Dosen IAIN Samarinda tersebut.

Selanjutnya, Prof. Roy Anderson menjelaskan pentingnya sekolah untuk melakukan perubahan atau inovasi terbaru dalam rangka meningkatkan kecerdasan anak di era pandemi Covid-19.

“Fungsi sekolah adalah untuk mengubah anak, tidak hanya pandai dalam belajar matematika ataupun sains, akan tetapi bagaimana kemudian sekolah mampu menciptakan suasana yang harmonis, rasa aman dan nyaman kepada anak, sehingga masyarakat memberikan kepercayaan penuh. Ini tugas kita bersama sebagai pendidik untuk menjadikan sekolah atau kelas sebagai tempat untuk mengembangkan berbagai kecerdasan dan kreativitas pada anak”. Terang Prof. Roy Anderson asal Pakistan tersebut.

Selanjutnya, Cris T. Zita, MAed, SMRJEdr pakar pendidikan dari Philippines menilai bahwa penguasaan bahasa asing adalah hal yang penting untuk dikuasai oleh siapapun terutama Bahasa Inggris.

“Bahasa Inggris saat ini menjadi bahasa yang paling umum digunakan oleh penduduk dunia. Hal ini harus menjadi kesadaran kita khususnya di perguruan tinggi agar menguatkan pengembangan bahasanya, melakukan inovasi agar para pengelola dan mahasiswa sama-sama memiliki kemampuan berkomunikasi dengan berbahasa asing yang baik dan benar. Jika target tersebut tercapai, maka tentu kita punya kesempatan besar untuk memahami teknologi”. Papar Cris T. Zita, MAed, SMRJEdr.

“Setidaknya ada beberapa alasan kenapa Bahasa Inggris ini menjadi penting, di antaranya menjadi alat komunikasi internasional, membantu untuk mengenal dunia, bahasa digital, agar manusia mampu mengikuti perkembangan zaman serta dapat mengupdate informasi dunia. Jikalau ini dikuasasi dengan baik maka pasti memudahkan kita dalam melakukan inovasi pendidikan dengan melibatkan negara lain”. Tambahnya.

Senada dengan Cris T. Zita, MAed, SMRJEdr., Dr. Atul Patil menyampaikan perkembangan teknologi yang semestinya selaras dengan pendidikan. Bagi Atul Patil teknologi adalah bagian terpenting dalam inovasi pembelajaran.

”Segala sesuatu yang terbaru dapat diakses secara online. Teknologi semestinya menjadi infranstruktur masa depan suatu perguruan tinggi dalam melakukan pengembangan, kita berharap perguruan tinggi dimanapun berada agar mendapatkan perhatian dari pemerintah sehingga penyelenggaraan pendidikan tetap berkualitas”. Harapnya.

“Saya ingin berkaca dari daerah Philadelphia, siswa di sana memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa, mereka sudah bisa menerapkan pembelajaran media visual, dengan memanfaatkan gambar, dan pesan pembelajaran sudah bisa tersampaikan kepada siswa. Pandemi ini memang membawa segala perubahan terutama pada bidang digital, misalnya hari ini guru mengajar dengan sistem rekaman atau video saja, lalu dapat ditonton oleh siswa”. Tambah salah satu pakar asal India tersebut.

Selanjutnya, dalam materi disampaikan oleh Associate Prof. Dr. Sherif Mohamed Ismail asal Mesir. Beliau menjelaskan kesempatan untuk memperoleh berbagai macam ilmu, kini terbuka seluas-luasnya, misalnya saja memanfaatkan internet untuk bimbingan belajar bahkan mengikuti kursus online.

“Sebenarnya sumber daya pendidikan kini sudah terbuka seluas-luasnya. Kita bisa belajar apa saja, baik berkaitan dengan materi pengajaran ataupun penelitian, kini dapat diakses dengan memanfaatkan sistem digital. Dengan adanya hal itu, tentu membantu kita sebagai pengajar untuk melakukan inovasi pembelajaran, membuat siswa lebih menyukai pembelajaran”. Ujarnya.

“Misalnya saja, ada program Massive Open Online Courses (MOOCs). Ini merupakan program baru yang merupakan sekumpulan kelas atau rencana studi tentang mata pelajaran tertentu sesuai yang diinginkan. Ini menandakan bahwa seiring berkembangnya teknologi, ternyata berdampak positif pada pengembangan pendidikan kita”. Paparnya.

Selanjutnya, Dr. Fuad Fansuri asal IAIN Samarinda menyampaikan bagaimana tantangan pembelajaran digital. Ia menuturkan penggunaan internet di era pandemi Covid-19 ini sangat dibutuhkan meskipun di dalamnya terdapat permasalahan yang rumit.

“Penggunaan internet sangat dibutuhkan pada saat ini. Secara gambar digital saja sudah bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi. Selain itu masih banyak media yang dapat digunakan khususnya dalam pembelajaran termasuk pembelajaran Agama Islam. Dalam hal ini pembelajaran dapat dilakukan baik secara virtual maupun visual, termasuk tafsir Alquran melalui animasi 3D. Mengapa tafsir Al-Qur’an? Karena maraknyar adikalisme, di samping itu Al-quran menjadi sumber utama Islam. Jadi pertanyaan lainnya adalah dapatkah pendidikan melawan ekstrimisme Agama? Melalui pembelajaran tafsir dengan menggunakanan imasi 3D dapat meningkatkan daya imajinasi dan minat siswa dalam belajar tafsir”.Jelas Dr. Fuad Fansuri.

Sementara itu, Jestoni P. Carpio, Ed.D.,D.Litt dari Philippines dalam materinya menjelaskan tentang teknik penelitian empiris di Perguruan Tingggi.

“Ciri umum penelitian empiris adalah purposif, saintifik, dan sistematis. Dasar penelitian empiris adalah mengkonseptualisasikan topik, sebagai langkah awal haruslah sesuatu yang menantang, signifikan, refleks, dan upaya dari kapasitas peneliti.”. Jelasnya

Adapun Dr. Amitabh Vikram Dwivedi menjelaskan terkait strategi kognitif untuk membaca dan mencatat secara online.

“Ada banyak poin yang penting tentang kognitif. Bagaimana kemudian proses informasi teresebut menjadi dasar dari pembelajaran. Guru harus mampu memberikan informasi terkait dengan mata pelajaran dan bagaimana siswa dapat menerima informasi tersebut”. Jelasnya.

“Pertanyaannya adalah apa dan bagaimana metode yang tepat bagi guru untuk memberikan informasi dalam pandemi ini? Adapun menurut saya teknik atau metode yang akan bermanfaat bagi siswa antara lain pengulangan, pengorganisasian bahasa baru, meringkas makna, menebak makna dari konteks, menggunakan perumpamaan untuk menghafal, dan mengembangkan pemikiran argumentasi pada anak didik”. Ujarnya.

“Untuk mengembangkan pemikiran argumentatif, diperlukan interaksi sebagai dasar dari metode ini untuk mengembangkan sense of self. Kesimpulannya, guru harus memiliki bahan ajar penunjang, guru harus memanfaatkan waktunya secara memadai, dan empat keterampilan (membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan)”.Tutup pakar India tersebut.

Selanjutnya, Dr. K.J Vargheese dari  India mengatakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses untuk memfasilitasi peserta didik dalam rangka memperoleh pengetahuan, keterampilan, keyakinan dan kebiasaan.

“Pendidikan adalah proses memfasilitasi pembelajaran, atau perolehan pengetahuan, keterampilan, nilai, keyakinan, dan kebiasaan. Maka pendidikan yang baik harus membekali peserta didik kompetensi”. Pungkasnya.

“Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan modal pendidikan untuk mendukung peningkatan dan pengoptimalan penyampaian informasi keilmuan. Saya ingin mengatakan bahwa hasil penelitian di seluruh dunia telah menunjukkan TIK dapat menyampaikan pembelajaran kepada siswa apalagi di era pandemi ini. Oleh karena itu, ini tantangan baru untuk para guru agar bisa menyebarkan ilmunya melalui media ini dengan cara-cara yang kreatif dan produktif. Selain itu, kita harus mengakui bahwa TIK telah banyak memberikan pengharuh yang nyata pada proses belajar-mengajar baik secara online maupun secara langsung di kelas”. Tutupnya.

Sealnjutnya, Engr. Dr. MujtabaAsad dari Pakistan menjelaskan mengenai pembelajaran campuran dalam proses belajar-mengajar. Dalam materinya, Beliau mengakui pengaruh negatif  Virus Covid-19 di berbagai aspek termasuk pendididkan. Namun baginya di balik pandemi tersebut justru memunculkan berbagai tantangan dan inovasi baru dalam penyajian pembelajaran.

“Virus Covid 19 berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Tapi justru terdapat pengetahuan baru yang menantang termasuk strategi pendekatan pembelajaran campuran. Maksudnya adalah para guru dapat melakukan proses belajar-mengajar dengan audio atau video yang kemudian dapat menunjukkan kepada siswa. Dalam hal ini guru bisa menyajikan berbagai mata pelajaran, dalam evaluasinya pun menurut saya, ini bisa meningkatkan kualitas pembelejaran apabila disajikan dengan sebaik dan semenarik mungkin”. Jelasnya.

Selanjutny, Dr. Amir Abas menjelaskan tentang Kualitas Institusi Pendidikan Tinggi.

“Kualitas yang saya maksudkan adalah tentang peningkatan yang berkelanjutan, misalnya saja standar dan pedoman untuk penjaminan mutu internal institusi, desain program-programnya, pembelajarannya, pengembangan mahasiswa, pengajar dan stafnya. Termasuk yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen informasi, informasi publik, pemantauan berkelanjutan dan tinjauan berkala program, dan jaminan kualitas eksternal”. Ungkap narasumber asal Pakistan tersebut.

Selanjutnya, Dr. Abdelkader Makhlouf asal Algeria menjelaskan terkait inovasi pembelajaran di Perguruan Tinggi dalam Tatanan New Normal. Menurut Abdelkader, teknologi adalah hal yang sangat berpengaruh dalam melakukan inovasi pembelajaran.

“Teknologi merupakan alat bantu yang sangat berpengaruh dalam melakukan inovasi pembelajaran baik di tingkat sekolah maupun Perguruan Tinggi apalagi di era pandemi saat ini. Oleh karena itu kita semua harus mengakui dan mengkuti perkembangannya, sebab kita tidak mungkin bisa menggantikan teknologi itu sendiri dalam menyajikan inovasi pembelajaran”. Jelasnya.

Selanjutnya, Dr. Mohammed Galal Mohammed dari Qatar menjelaskan bagaimana membuat penilaian otentik di kelas online.

“Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada pendidikan. Proses pembelajaran harus dilakukan secara online atau memutuskan pembelajaran campuran. Salah satu inovasi pembelajarannya adalah Classroom Assessment. Apa itu Penilaian Ruang Kelas? adalah pendekatan sistematis untuk evaluasi formatif, digunakan oleh instruktur untuk menentukan seberapa banyak dan seberapa baik siswa belajar. Ini dapat membantu guru untuk belajar-mengajar”. Terangnya

“Penilaian itu dapat digunakan untuk memandu proses belajar mengajar dan sangat penting untuk menilai hasil akhir belajar siswa. Tujuan utama Penilaian Ruang Kelas adalah memberdayakan guru dan siswanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dapat menjadi motivasi dan umpan balik siswa dalam pembelajaran karena membantu guru dalam memberikan reward dan punishment di akhir pembelajaran. Proses kreatif assemen autentik di kelas online terdiri dari beberapa tahapan yaitu plan, create, critical and refine, dan reflect”. Jelasnya

Selanjutnya, Dr. Mohamed Samir Nada, P.hD dari Mesir menyampaikan tentang  penggunaan platform untuk siswa atau e-learning yang praktis.

“Penggunaan platform virtual untuk siswa sekolah ini sebenarnya membuat siswa lebih kreatif, dan menarik perhatian mereka untuk mengikuti proses pembelajaran. Apalagi saat pandemic ini membuat pelajar harus belajar dari rumah. Tiga jenis interaksi siswa dalam platform e-learning adalah konten yang menyediakan materi pembelajaran, guru yang menyampaikan informasi tentang materi, dan kelompok siswa yang saling berkomunikasi atau berinteraksi”. Jelasnya


“Platform lab virtual yang disebut platform vlaby memiliki kelebihan seperti melindungi siswa dari bahaya segala rintangan dan membantu guru menjelaskan materi. Platform Vlaby bukan sekedar platform yang berisi e-learning, tapi menggabungkan e-learning sebuah game agar siswa tidak bosan”. Tutupnya

Selanjutnya, Prof. Dr. Ahmad Alqatan dari Kuwait menjelaskan bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Kualitas guru merupakan factor terpenting di sekolah atau lembaga Pendidikan Tinggi yang mempengaruhi prestasi dan kesuksesan siswa. Sehingga seorang guru harus memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan untuk improvisasi proses belajar mengajar. Kualitas penyiapan guru berdampak besar bagi guru dan siswa. Namun kenyataannya banyak guru baru mengatakan bahwa mereka lulus dari sekolah pendidikan tidak siap untuk masuk kelas”. Tuturnya

“Menurut saya, ada beberapa  kebutuhan untuk peningkatan persiapan guru yang berkualitas: 1) Guru terlatih khususnya dalam bidang teknologi dan mempersiapkan materi kelas yang kreatif; 2) Mempelajari cara menggunakan aplikasi pembelajaran atau rapat; 3) Jadilah lebih interaktif dan menyenangkan agar membantu siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi; dan 4) Menghadiri lokakarya dan konferensi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka”. Jelasnya

Selanjutnya, Dr. Andi Asrifan menjelaskan tentang kecerdasan ganda dalam merancang kursus di kelas. Ia menilai bahwa sebagian siswa merasa bosan jika berada di dalam kelas. Hal tersebut disebabkan karena strategi guru yang masih dianggap belum menarik oleh siswa itu sendiri.

“Sebagian besar siswa merasa bosan di kelas karena strategi masih belum membaik. Belum lagi dampak pandemi yang mengharuskan belajar dari rumah, dan para guru merasa bingung untuk mengajarkan materi dalam kondisi seperti ini”. Pungkasnya

“Maka setidaknya poin yang ingin saya sampaikan guru harus mempunyai pedoman dalam rancangan bahan ajar, agar sasaran pembelajaran yang disajikan dapat diterima dengan baik oleh siswa, lalu silahkan manfaatkan alat TIK untuk mendesain model pembelajarannya. Namun yang lebih penting adalah lakukan analisis kebutuhan untuk mengatahui bagaimana kinerja pembelajaran yang maksimal dan merancang kurikulum yang baik”. Jelas narasumber asal Indonesia tersebut.

Selanjutnya, Dr. Muthmainnah asal Indonesia menjelaskan tentang disrupsi pendidikan di bawah pandemi Covid-19. Dalam materinya ia menuturkan pentingnya merangkul disrupsi tersebut. Sebab, kata beliau Indonesia dan dunia hari ini sangat membutuhkan internet sebagai alat bantu belajar di tengah pandemi.

“Indonesia secara khusus menghadapi masalah dengan internet dan fasilitas yang terbatas seperti telepon seluler dan laptop. Namun disisi lain guru harus fleksibel dan meningkatkan keterampilan mereka dalam merancang kurikulum berdasarkan kebutuhan siswa”. Ujarnya

“Saat ini semuanya sudah digital, termasuk pendidikan. Nah sekarang tugas kita sebagai pendidik adalah, bagaimana kemudian guru mampu menyampaikan materi dengan teknologi. Antara kemampuan pedagogik dan teknologi yang berkaitan dengan system, ketika sistem berubah kita perlu beradaptasi. Sehingga perlu adanya inovasi pedagogis yang memadukan dunia maya dan pedagogik dengan memahami bagaimana menggunakan dan membaginya dengan teknologi. Selain itu, guru juga harus bertransformasi ke mode digital dengan keterampilan TIK untuk menyampaikan materi kepada siswa. Tidak hanya guru, fasilitas juga harus mendukung untuk proses belajar-mengajar di dunia digital. Guru dapat mengajar dengan berbagai metode dan media seperti lagu, film, mengenai komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan berkreasi”. Tutup Dr. Muthmainnah asal Indonesia tersebut.#humasiainsmd

News Feed