by

Jadi Narasumber KIIS Seri-16, Prof. Ilyasin: Pencegahan Korupsi Harus Dimulai dari Diri Sendiri

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd. menjadi narasumber dalam acara Kreatif Inovatif Inspiratif Solutif (KIIS) Humas Bicara Seri Ke-16 dengan tema Integritas, dan spirit Hari Amal Bakti (HAB) ke-75 Kementerian Agama RI. Rabu (6/1/2021)

Acara yang diprakarsai oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI tersebut setiap pekan menghadirkan narasumber yang berbeda dari Instansi Kementerian Agama lintas Provinsi.

Kali ini, materi disampaikan oleh Rektor IAIN Samarinda berkolaborasi dengan Syahrul Wirda selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat, serta Mahrus El-Mawan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Acara ini juga dimoderatori langsung oleh Agus Prajitno, S.SiT., M.Eng. selaku Koordinator Humas dan Protokoler IAIN Samarinda secara online via Zoom Meeting pukul 10.00 WITA.

Bertindak sebagai Keynote Speaker, Dr. H. Nur Arifin, M.Pd. Inspektur Wilayah II, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI, mengungkapkan bahwa Kementerian Agama dalam rangka memperingati HAB ke-75 ini memiliki peran penting dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan harus hadir di masyarakat untuk menjadi pemersatu dari semua Agama. Dengan demikian, nilai-nilai toleransi dan moderat  dengan mudah diimplementasikan.

“Diusia ke-75 Kementerian Agama terus memegang peran ini, menaungi seluruh Agama yang terdaftar resmi di Indonesia untuk menjadi jembatan atas apa yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa, menguatkan NKRI, kerukunan beragama, toleran dan moderat. Semoga Kementerian Agama dapat membawa negara dan masyarakat kita menjadi maju dan beradab,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Ilyasin berharap para ASN bisa lebih produktif dan bersyukur karena telah menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Agama.

“Hari Amal Bakti ke-75 Kementerian Agama ini tentu saja menyadarkan kita semua bahwa usianya sudah cukup tua, yang terpenting kita terus membangun semangat kerja sebagai ASN di Kementerian Agama, karena kita punya tanggung jawab dunia akhirat,” pungkasnya.

Terkait pencegahan korupsi, menurut Rektor, pemberantasannya harus dimulai dari diri sendiri, kejujuran, kepedulian, kemandirian, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan.

“Memberantas korupsi tidak bisa parsial, perlu sinergi dan menjadi tanggung jawab pribadi dan bersama. Mulai dari lingkup paling kecil yakni keluarga dan hal yang paling sederhana yakni kejujuran. Korupsi cerminan kurangnya rasa syukur, jadi kita harus banyak bersyukur apa yang diberikan sang maha kuasa dan memiliki integritas diri,” tegasnya.

Integritas yang Rektor maksud adalah bagaimana program dan ide tentang korupsi tidak terjadi di lingkungan kemenag.

“Jadi bagaimana cara kita mencegah tindakan korupsi itu? yakni perlu meningkatkan kebersamaan dan sense of belonging, sehingga akan terpacu rasa tanggung jawab terhadap amanat yang diemban,” tukas Rektor.

Pimpinan IAIN Samarinda itu juga menyampaikan apresiasinya kepada Ditjen Kementerian Agama RI atas inisiatif Progam KIIS Humas Bicara. Bagi Rektor, gagasan tersebut tentu membawa dampak positif di lingkungan Kementerian Agama RI dalam rangka melakukan terobosan baru di tengah pandemi Covid-19.

“Atas nama lembaga IAIN Samarinda kami sangat mengapresiasi kegiatan inovasi ini, semoga langkah konkrit ini membuat lembaga kita terus eksis, terutama di tengah pandemi Covid-19,” demikian penjelasan Rektor IAIN Samarinda Prof. Ilyasin.

Senada dengan itu, Dr. Mahrus, M.Ag. berharap dengan adanya peringatan HAB ke-75, Kementerian Agama menjadi pemersatu dari sekian banyaknya kelompok beragama di Indonesia.

“Kehadiran Kemenag adalah solusi pemersatu kelompok beragama. Integritas menjadi kata kunci, bagaimana agama dilaksanakan sesuai teks dan konteks sehingga kata yang diucapkan akan sejalan dengan perbuatan yang ditumbulkan,” harapnya.

Syahrul Wirda, Kepala Kanwil Sumatera Utara dalam paparannya mengungkapkan perlunya memahami moderasi bergama oleh para ASN untuk mewujudkan Indonesia Rukun.

“Selain birokrasi yang semakin baik, ASN juga harus memahami dan menerapkan moderasi beragama dengan penguatan literasi agama, kebudayaan, dan kearifan lokal. Dalam rangka mewujudkan Indonesia Rukun, maka kita harus merangkul semua umat beragama,” tutup Syahrul Wirda.#humas (id/md)

News Feed