by

Sambut Status Baru, 6 Guru Besar Bahas Model Integrasi UINSI Samarinda

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Lokakarya Nasional dengan tema “Membangun Model Integrasi Keilmuan UIN Sultan Aji Muhammad Idris” yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda secara daring melalui Zoom Meeting pada tanggal 28 Desember 2020 lalu, sukses menghadirkan 6 Guru Besar lintas Perguruan Tinggi Islam sebagai narasumber. Pada kesempatan ini, acara dibuka langsung oleh Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd selaku rektor IAIN Samarinda.

Lokakarya Nasional tersebut dibagi menjadi 2 sesi dengan 3 orang narasumber sebagai pembicara dimasing-masing sesi pertama dan sesi kedua.

Hadir sebagai narasumber dalam Lokakarya tersebut adalah Prof. Nasaruddin Umar selaku Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Prof. Imam Suprayogo yang merupakan Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof. Suyitno yang menjabat sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Mulyadhi Kartanegara yang merupakan Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Mujiburrahman selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Banjarmasin, dan Prof. Andi Faisal Bakti yang menjabat sebagai Wakil Rektor IV UIN Jakarta.

Prof. Nasaruddin Umar selaku pembicara pertama pada sesi pertama membahas tentang integrasi keilmuan. Beliau menyampaikan bahwa integrasi keilmuaan perlu dilakukan dengan cara menggabungkan ilmu yang diperoleh melalui olah nalar dan ilmu yang diperoleh tidak melalui nalar.

“Dalam literatur kita agama islam, ada dua macam pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut ‘ilm. Yang kedua, pengetahuan yang diperoleh melalui batin disebut dengan Ma’rifah atau Irfan. Dan menurut hemat saya, integritas keilmuan itu mengkombinasikan antara ilmu hushuli dan ilmu hudhuri,” kata Prof. Nasaruddin Umar.

Beliau juga menuturkan bahwa, “Memperkuat makna dari seorang murid atau mahasiswa itu sendiri bisa memperkuat integritas keilmuan.”

“Makna murid adalah orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari ilmuanya Allah, tidak hanya bersungguh-sungguh hanya dalam mencari ilmunya dosen atau dari buku-bukunya. Dosen dan guru hanya perantara, ilmu Allah adalah yang utama,” jelasnya.

Pemaparan Lokakarya Sesi Pertama dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu Prof. Imam Suprayogo dengan membahas transformasi dari IAIN ke UIN. Hal tersebut menjadi bagian dari momentum untuk bangkit dan menunjukkan eksistensi PTKI yang sebenarnya. Ketika IAIN menjadi UIN dan membuka fakultas-fakultas umum seperti kedokteran, pertanian, teknologi ataupun perikanan, kelak diharapkan bisa memakmurkan rakyat khususnya di wilayah Kalimantan.

Prof. Imam Suprayogo menyampaikan bahwa “Suatu perubahan biasanya akan menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran akan ilmu keagamaannya karena mulai memunculkan ilmu-ilmu umum. Kalau IAIN berubah jadi UIN lalu agamanya dimana? Ilmu umum letaknya dimana? Lalu jangan-jangan agamanya hilang. Itulah komentar yang saya terima dulu selaku rektor.”

“Di Samarinda, di suratnya menuliskan tentang sarang lebah madu. Sarang lebah kita ketahui memiliki ruang yang rapat, antara sekat satu dan yang lain tidak pernah terpisah. Hubungan integrasi adalah antara Agama, Sains dan Teknologi tidak akan bisa dicampur, karena sumber ilmunya memang berbeda, tapi tidak bisa terpisah dan tetap merekat seperti sarang lebah. Oleh karena itu, saya rasa ide tentang sarang lebah madu sangatlah bagus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut,” jelasnya.

Adapun pemaparan selanjutnya dari Prof. Mulyadhi Kartanegara selaku narasumber ketiga pada lokakarya sesi pertama membahas tentang aspek saintis, filosof, dan sufi. Menurutnya, pengetahuan melampaui batas empiris, tidak hanya pada hal yang fisik namun juga metafisik.

“Yang akan saya sampaikan adalah semacam pedagogik Qurani dimana mengajar menurut perspektif quran sekaligus epistimologi islam. Berdasarkan Q.S Al-Alaq: 1-5, menyadarkan kepada kita bahwa yang sebenar-benarnya menjadi guru kita adalah Allah SWT,” kata Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Prof. Mulyadhi Kartanegara menambahkan bahwa “Allah SWT mewahyukan kepada para nabi melalui malaikat Jibril yang kemudian diajarkan kepada para sahabat, umat muslim sampai kepada kita sekarang. Sehingga jelas bagi kita bahwa Allah SWT adalah guru dari kita semua.”

Melakukan pengamatan terhadap langit seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa ilmuan muslim sebelumnya wajib dilakukan. Penalaran atau renungan terhadap alam kemudian bisa merujuk kepada kesimpulan bahwa semua hal tersebut berasal dari ciptaan Allah.

Prof. Mulyadhi Kartanegara selanjutnya menjelaskan bahwa selain penalaran secara fisik, perlu adanya penalaran secara metafisik. Penalaran metafisik tidak lain dilakukan melalui hati, burhan, untuk mencapai hidayah dan ilmu laduni karena guru sesungguhnya adalah Allah sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Al-Alaq: 1-5. Hati berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang dahsyat, sehingga tiada pengetahuan yang luput darinya.

“Dalam epistemologi Islam, hati adalah salah satu sumber ilmu,” kata Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Lokakarya Nasional Sesi Kedua

Prof. Mujiburrahman dalam pemaparannya sebagai narasumber pertama di lokakarya nasional sesi kedua ini menyampaikan bahwa “Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model integrasi keilmuan, yakni integrasi bukan mencampur adukkan ilmu pengetahuan melainkan saling terkoneksi; Agama dan Sains hubungannya harus diperjelas bahwa landasan etis agama yang melatarbelakangi eksplorasi sains dan kajian ilmiah; serta memunculkan kekhasan budaya lokal.”

Beliau juga menambahkan bahwa “Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan sinergitas adalah kesadaran terhadap sejarah, penghormatan pada tokoh teladan, seremoni yang tidak kehilangan substansi, dan pemberian reward and punishment.”

Pembicara pada sesi Kedua dilanjutkan oleh Prof. Suyitno dengan mengangkat materi tentang bagaimana model integrasi itu terbangun dari dua model, dengan imitasi atau inovasi melalui arba’ah arkanul jami’ah.

Menurut Prof. Suyitno SK Dirjen 2498 tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Integrasi Ilmu di PTKI adalah dasar acuan dalam mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum hingga meningkatkan kompetensi dan daya saing lulusan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti pendidikan dan pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan core values kampus yang telah dilaksanaka di beberapa PTKIN seperti Jakarta, Ygyakarta, dan Malang.

Pembicara terakhir pada sesi Kedua yaitu Prof. Andi Faisal Bakti membahas tentang bagaimana membangun visi misi, tujuan dan sasaran PTKIN sebagai pengembangan masyarakat.

“Saya berpandangan bahwa integrasi adalah suasana logis, ilmiah, akademik dan analitis antara quran dan ilmu pengetahuan. Baik yang sedang berkembang sekarang ini maupun yang akan digali kedepan. Termasuk hadis, sunnah rasul dan pandangan ulama,” kata Prof. Andi Faisal Bakti.

Prof. Andi Faisal Bakti selanjutnya menjelaskan bahwa “Dalam hal integrasi, maka adalah suasana dialogis antar 6 keilmuan, dari tarbiyah, syariah, ekonomi syariah, sains dan teknologi, sosial dan humaniora, dan kesehatan. Sarang lebah mencerminkan rukun iman, kemudian memberikan manfaat yakni madu. Lebah dalam membentuk sarang lebah menjadi cerminan kuatnya etos kerja, spiritual, intelektual untuk kerja cerdas dan tuntas. Pengembangan masyarakat dengan empat hal yakni takwin al-ummah, yad’una ilal khair, yakmuruna bil ma’ruf, yanhauna ‘anil munkar.”

Tujuan dilakukannya Lokakarya Nasional dengan tema “Membangun Model Integrasi Keilmuan UIN Sultan Aji Muhammad Idris” ini adalah untuk mendukung dan membantu IAIN Samarinda dalam membangun model integrasi keilmuan yang paripurna sebagai pondasi dari Univeristas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris kedepannya.#humas (rh/kh)

News Feed