by

Pengembangan Kurikulum Kampus Merdeka, LPM IAIN Samarinda selenggarakan Focus Group Discussion

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda selenggarakan Focus Group Discussion (FGD) terkait Pengembangan Kurikulum Kampus Merdeka pada hari Jum’at tanggal 26 Februari 2021.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor IAIN Samarinda Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd. menegaskan dua hal untuk mencapai Kampus Merdeka.

“Hal yang perlu ditegaskan terkait kampus merdeka seperti yang dikemukakan oleh Mark A Hanson dalam bukunya Educational Management in Organizational School mengatakan bahwa suatu organisasi akan sulit mencapai visinya dengan baik jika tidak berani keluar dari jalur-jalur kenormatifan. Pilihannya hanya ada dua: keluar dari kenormatifan atau membiarkan organisasi berjalan apa adanya. Tantangan bagi seorang leader adalah tidak hanya melakukan implementasi kebijakan yang bersifat top-down akan tetapi melakukan inovasi yang kemudian menjadi kebijakan bottom-up.” Tutur Rektor IAIN Samarinda. Hadir sebagai narasumber, Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Prof. Dr. H. Mukhsin Jamil, M.Ag. Dalam FGD itu, Prof. Mukhsin jelaskan integrasi kebijakan dalam implementasi kampus merdeka belajar. “Merdeka belajar bukan hanya konsep tetapi juga mindset, selama ini pendidikan kita masih menggunakan sistem belajar colonial. Setidaknya ada lima hal yang diperhatikan untuk integrasi kebijakan dalam implementasi kampus merdeka belajar, pertama adalah penyusunan pedoman akademik 2020, penyusunan pedoman merdeka belajar, penyusunan panduan teknis, penyusunan kurikulum merdeka, dan membuat kebijakan teknis terkait.” “Dalam implementasi kampus merdeka belajar IAIN samarinda harus merancang: 1) Penetapan kebijakan dan pedoman hak belajar di luar prodi; 2) Penyusunan pedoman akademik 2020 dengan mengacu dan mengintegrasikan regulasi kemendikbud 2020; dan 3) Penyusunan, penetapan, dan implementasi kurikulum merdeka.” “Selama ini mahasiswa magang yang berjangka pendek (kurang dari 6 bulan) sangat tidak cukup untuk memberikan pengalaman dan kompetensi industri bagi mahasiswa. Perusahaan yang menerima magang juga menyatakan magang dalam jangka waktu sangat pendek tidak bermanfaat, bahkan mengganggu aktifitas industri. Melalui program magang 1-2 semester, memeberikan pengalaman yang cukup kepada mahasiswa, pembelajaran langsung ditempat kerja (experiental learning). Selama magang mahasiswa akan mendapatkan hard skills (keterampilan, complete problem solving, analytical skills, dsb). Mahasiswa yang sudah mengenal tempat kerja tersebut akan lebih mantap dalam memasuki dunia kerja dan karirnya. Hal ini yang disebut dengan merdeka belajar bukan.” Papar Prof. Mukhsin.

News Feed