by

Hadirkan Tokoh Besar NU, Gus Yahya Tegaskan Moderasi dengan Dialog Nas dan Realita

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda gelar Kuliah Umum bertema “Pengarustamaan Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa” dengan mendatangkan narasumber dari salah satu tokoh organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama KH. Yahya Cholil Staquf yang menjabat sebagai Katib Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dilaksanakan di Auditorium 22 Dzulhijjah pukul 08.00 WITA. Sabtu (3/7/2021).

Sebagai pembuka, Rektor IAIN Samarinda sampaikan sejarah singkat UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda dalam sambutannya pagi itu.

“Kegelisahan masyarakat Kalimantan Timur untuk memiliki perguruan tinggi keagamaan sudah dimulai sejak 1962 yang kemudian diresmikan tahun 1967 dan terus berkembang dalam binaan Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Antasari, kembali ke Sunan Ampel tahun 1997 dan merdeka menjadi STAIN Samarinda. 2014 menjadi IAIN, alhamdulillah 11 Mei 2021 resmi menjadi UIN Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan nama raja pertama pembawa Islam dalam kerajaan,” jelasnya.

Prof. Ilyasin juga menuturkan upaya yang dilakukan IAIN Samarinda untuk menangkal pergerakan Islam non-mainstream.

“Perkembangan dakwah di Kaltim relatif kondusif, namun ada indikasi pergeseran pergerakan Islam non-mainstream (radikal) mendekati pusat-pusat kota. Upaya untuk mengatasi, kampus kita sudah memiliki pusat studi Islam dan pembinaan Pancasila yang dalam waktu dekat akan kita desain untuk menjadi rumah moderasi. Sebagai embrio dalam kegiatan ini dari pusat studi Islam adalah sekolah keberagaman yang melibatkan semua agama dan remaja-remaja dalam koordinasi IAIN Samarinda yang akan kami terus tingkatkan lagi,” imbuhnya.

Di akhir sambutannya, Prof. Ilyasin menyebutkan kaidah ushul fiqh yang berharmoni dengan moderasi beragama.

“Pendekatan yang dipakai tidak berhenti pada muhafadzoh ‘ala qodimisholih wal akhodzu bil jadidil ashlah, melainkan terus memperbaiki dengan sesuatu yang lebih baik yakni al ishlah ilaa maa huwal ashlah tsumma al ashlah fal ashlah. Karena kita melayani umat, zaman, yang sudah tidak sama jadi program harus beriringan dengan keadaan sekarang,” tutupnya.

Di ruang yang sama, KH. Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya itu mengatakan pengarustamaan moderasi berada pada fase yang membingungkan.

“Belakangan ini, muncul pengarustamaan moderasi beragama karena kita sekarang berada pada kebingungan. Itu terjadi akibat adanya perubahan peradaban yang belum selesai membentuk peradaban baru,” ungkapnya.

“Kita punya dua pilihan, membentuk tatanan baru atau kembali ke konsep lama. Konsekuensinya jelas, kalau kembali ke konsep lama NKRI harus bubar. Jangan hanya berpikir tentang idealis yang abstrak karena pemimpin-pemimpin pendahulu kita termasuk KH. Hasyim Asyari tentu memilih dan menyetujui NKRI adalah karena sesuai dengan syariat karena itu adalah hasil dialog nas dan realita,” jelasnya.

Katib Aam Syuriah PBNU itu juga mengatakan bahwa moderat bukan pada gaya beragamanya, tetapi pada kesadaran untuk menegakkan keadilan sosial.

“Moderat bukan soal menolak gaya beragama, namun tentang bagaimana membangkitkan kesadaran yang berkehendak baik dari segala bangsa untuk membangun konsensus global diantara seluruh umat manusia menuju peradaban baru yang sungguh-sungguh adil dan harmonis yang didasarkan pada penghormatan hak dan derajat antar sesama umat manusia,” tutup Gus Yahya. #Rh

News Feed