by

Kuliah Umum Pengembangan Studi Islam, Prof. Nur Kholis Ajukan Keseimbangan antara Akal dan Moral

SAMARINDA, IAIN NEWS,- Kuliah Umum kembali digelar oleh IAIN Samarinda yang telah beralih status menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda dengan menghadirkan Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, M.A. Guru Besar Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Purwokerto di Auditorium 22 Dzulhijjah Kampus 2 Jl. H.A.M. Rifaddin Harapan Baru Loajanan Ilir Samarinda, Jum’at (02/7/2021) lalu.

Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, M.A. adalah seorang akademisi, intelektual muslim, birokrat, dosen, dan juga Guru Besar di UIN Purwokerto. Diketahui Prof. Nur Kholis sebelumnya pernah menjabat sebagai Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI dan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI.

Mengawali acara, Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd. sebagai Rektor IAIN Samarinda memberikan sambutan dengan membahas singkat tentang rencana-rencana pengembangan kampus dan program yang sedang dituju untuk kemajuan di masa depan. Tidak berhenti disitu, Prof. Ilyasin juga menyinggung pentingnya peran moderasi beragama di masyarakat dan lingkungan PTKIN.

“Keyakinan kami maysrakat di Kalimantan Timur, Islam ini akan mampu mengawal Ideologi negara Pancasila yang selama ini kita perjuangkan dan pertahankan itu kalau yang berkembang dan yang dipraktekan dalam kehidupan berbangsa dan bernengara adalah islam yang mainstream yang moderat. Jika kaum moderat ini mampu perberan lebih, insyaallah kita akan mampu mengawal ideologi Pancasila,” ujarnya.

Dengan mengusung tema “Perkembangan Studi Islam di Indonesia” Prof. Nur Kholis menjelaskan keniscayaan akan sebuah perubahan atau alih status menjadi UIN. Guru besar yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdhlatul Ulama ini juga menyampaikan perlunya keseimbangan antara akal dan moral.

“Perjuangan alih status dari STAIN, menjadi IAIN, dan kemudian UIN bukan hanya semata-mata karena tuntutan zaman. Tapi dalam kajian ilmu keislaman kita bisa melihat hal ini seperti sebagai rumpun ilmu, bidang ilmu, dan spesialisasi ilmu. Inilah yang menyebabkan alih status menjadi keniscayaan,” tuturnya.

“Kemanapun arahnya produk kepemimpinan seperti apapun situasinya, maka rujukannya pasti Al-Quran dan Hadis. Lalu mengapa ada pelajaran fiqih? Fiqih mengajarkan intelektualitas, nalar berpikir. Karena tidak bisa dipisahkan dengan metodologinya,” imbuhnya.

“Kemudian kenapa ada akidah dan akhlak. Karena tidak cukup dengan akal dan rasionalitas, tapi kita juga membutuhkan moral,” tutupnya.

Berbekal gelar Doctor of Philosophy yang diraih dari Bonn University Jerman pada program Islamic Studies, Prof. Nur Kholis melanjutkan pemaparan materi yang membahas lebih dalam tentang perkembangan dan peradaban ilmu keislaman di Indonesia.

News Feed