by

Intip Keseruan KKN Nusantara di Sulawesi Tenggara, Risna & Rasmah Giat Programkan Kegiatan Moderasi Beragama

Sulawesi Tenggara, IAIN NEWS,- Dua mahasiswa IAIN Samarinda, Risnawati mahasiswa program studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) dan Rasmah Pendidikan Agama Islam (PAI) laksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara sejak tanggal 1 Juli s.d. 14 Agustus 2021 di Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Risnawati bersyukur atas kesempatan mengikuti KKN Nusantara dan berdecak kagum dengan situasi pedesaan yang belum pernah ia temui sebelumnya.

“Bersyukur karena bisa ikut KKN Nusantara dan ditempatkan di Desa Lelekaa yang asri dan memberikan kami pengalaman yang the real KKN. Butuh mental dan fisik yang kuat untuk menghadapi sesuatu yang belum pernah kita jumpai,” ujarnya.

Kegiatan Mengajar TPA di Desa Lelekaa
Bimbingan Belajar Desa Lelekaa
Pembudidayaan Kebun Nilam Desa Lelekaa

Sebagai perwakilan dari Kampus Hijau yang meraih peringkat ke 6 se-PTKIN by UI GreenMetric World Rankings pada tahun 2020 lalu, Risna adakan berbagai kegiatan rutin yang jempolannya adalah Bank Sampah di Desa Lelekaa.

“Untuk kegiatan saya selama KKN Nusantara ini ada banyak, mulai rutinan hingga yang kami unggulkan. Kegiatan rutin sendiri itu ada 7, Majelis Ta’lim, Mengajar TPA, Bimbingan Belajar, Kajian Fiqih, Pelatihan Pengurusan Jenazah, Lelekaa Indah (kerja bakti), Pembudidayaan Kebun Nilam, dan Khotib,” ungkap mahasiswa BKI itu.

“Untuk unggulannya dari kita, yaitu Bank Sampah yang bertujuan untuk penanggulangan masalah sampah yang ada di Desa Lelekaa, memberikan manfaat ekonomi, selain itu juga dari aspek sosial melibatkan dua agama yaitu Islam dan Kristen yang dapat meningkatkan kerukunan antar umat beragama yang ada di Desa Lelekaa,” ujarnya.

Bank Sampah Desa Lelekaa
Lelekaa Indah (Kerja Bakti)

Tak kalah seru, Rasmah sebagai mahasiswa PAI juga menyebutkan berbagai program khusus yang dilakukan di Desa Lapoa, dari kegiatan keagamaan dengan mengajar dan mengaji, hingga kepedulian lingkungan.

“Kegiatan kami seperti Risna juga, ada Majelis Ta’lim setiap Kamis dan Jumat Sore, Mengajar TPA setiap malam, malam Jumat ada kegiatan pengajian dan yasinan, Khotib, dan Jumat Bersih. Nah, untuk Jumat Bersih ini diadakan di 5 rumah ibadah,” tutur mahasiswa PAI itu.

“Dengan tema Moderasi Beragama Multikulturalisme, kegiatan unggulan saya dan kawan-kawan KKN Nusantara di posko Desa Lapoa ada dua. Pertama, Posko Mobile untuk mengedukasi masyarakat tentang protokol kesehatan yang melibatkan tokoh agama dari 5 kepercayaan. Kedua, Gubuk Edukasi yang berfungsi sebagai wadah atau rumah belajar untuk memberikan pemahaman dan menanamkan nilai-nilai persatuan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama,” imbuhnya.

Kegiatan Mengajar TPA di Desa Lapoa
Jumat Bersih Desa Lapoa
Gubuk Edukasi Desa Lapoa
Posko Mobile Desa Lapoa

Dengan almamater hijaunya, Risna menuturkan harapan kepada mahasiswa yang kelak akan mengabdi pada masyarakat di masa yang akan datang.

“Harapan saya untuk mahasiswa kedepannya, semoga semakin banyak mahasiswa yang semangat untuk mengabadikan dirinya pada negeri, ikut berkontribusi untuk masyarakat, dan semoga mahasiswa lain bisa menemukan potensi yang terpendam untuk benar-benar hidup dan mengabdi kepada masyarakat agar desa atau tempat yang dijadikan KKN tersebut maju dan berkembang,” tuturnya.

Rasmah juga mengungkapkan bahwa KKN ini sebagai langkah awal mengenali masyarakat lebih dekat untuk kemudian benar-benar mengabdi kepada mereka dengan berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika.

“Bersyukur alhamdulillah karena bisa mewakili kampus untuk mengabdi dan bertemu dengan teman-teman dari kampus lain. Harapan untuk saya dan mahasiswa ke depan, semoga kita bisa berpartisipasi dalam memberikan ide, memahami potensi masalah yang ada, dan mencari jalan terbaik untuk kemajuan masyarakat kita. Dari Desa Lapoa, saya, kita, sama-sama bisa lebih memahami makna semboyan negara kita bhinneka tunggal ika yang memiliki makna berbeda-beda tapi satu. Perbedaan pasti, tapi jangan sampai kita terpengaruh dengan berita-berita hoaks/konflik di luar sana. Kalau tidak dimulai dari kita sebagai penerus generasi bangsa, siapa lagi? Tetap tanamkan di dalam hati kita bahwa kita satu yaitu Indonesia,” pungkasnya. (humas/rh).

News Feed