by

Perjuangan dari Sebuah Pengabdian di Daerah Sawitan, KKN-B IAIN Samarinda Gencar Kembangkan Desa Riwang

PASER, IAIN NEWS,- Sebanyak 8 mahasiswa tangguh dan peduli masyarakat laksanakan Kuliah Kerja Nyata Blended (KKN-B) dari tanggal 26 Juli s.d. 31 Agustus 2021 di Desa Riwang, Kec. Batu Engau, Kab. Paser.

8 mahasiswa lintas prodi itu saling bahu membahu dalam menyukseskan program KKN Reguler di Desa Riwang, 1. Didi Darmawan Azmi (PAI), 2. Nita Fihalifah (PAI), 3. Shania Nur Halizah (PAI), 4. Fiqih Nasru Ilahi (PAI), 5. Sandra Wakmaliah Jannah (IAT), 6. Budi Firmanto Sakiman (PAI), 7. Hendriani (PGMI), dan 8. Saidah Rahma (HES).

Ketua yang akrab disapa Didi itu mengungkapkan perjalanan panjangnya bersama teman-teman kelompok KKN-B ke Desa Riwang.

“Kami menempuh perjalanan dengan bermotor, dari Samarinda ke Desa Riwang kurang lebih 17 jam. Kami awalnya bingung, karena daerahnya hutan sawit dan ternyata memang Desa Riwang di daerah sawitan. Kondisi tanah kalau panas aman saja, tapi kalau sudah hujan becek sekali. Bahkan, teman kami ada yang sudah terjatuh sampai dua kali,” ujarnya.

Didi menjelaskan program kerja unggulan yang unik dan khas dari kelompok KKN-B Desa Riwang, diantaranya ada pembuatan nama-nama jalan dan papan selamat datang, pembentukan IRMA Masjid, pembelajaran Al-Qur’an dan bahasa, dan pelatihan desain grafis.

“Kami membuat nama-nama jalan karena di desa ini banyak simpangannya, biar mempermudah orang-orang yang melintas. Kami juga buat papan selamat datang karena belajar dari pengalaman kami yang kebingungan mencari Desa Riwang,” tuturnya.

“Kalau di perkotaan, IRMA adalah sesuatu yang harus ada dan mudah ditemukan di masjid-masjid. Tapi disini, IRMA tidak ada. Bahkan, kami pernah bertanya kepada anak-anak tentang Rukun Islam dan Rukun Iman, dan mereka tidak tahu,” imbuhnya.

Sebagai mahasiswa IAIN Samarinda, Didi membakar semangat kawan-kawan kelompok KKN-B untuk mengembangkan Desa Riwang melalui pembelajaran dan pelatihan.

“Kami membuka pembelajaran Al-Qur’an dengan mengajar mengaji melalui metode tilawati, ada perlombaan Muharram, pengenalan bahasa dari bahasa Arab dan Inggris, serta pelatihan dalam bentuk kerajinan untuk ibu-ibu Desa Riwang dan desain grafis untuk membantu Kantor Desa Riwang dalam membuat pamflet atau spanduk kegiatan,” jelasnya.

Mahasiswa PAI itu kemudian mengungkapkan kondisi disana yang minim listrik.

“Disini listrik hanya menyala dari jam 6 sore sampai 12 malam, jadi kami harus selalu ekstra saving daya untuk acara besoknya,” katanya.

Didi sebagai Ketua sekaligus perwakilan kelompok berharap agar tahun selanjutnya ada mahasiswa KKN IAIN Samarinda yang ditempatkan di pedalaman seperti Desa Riwang ini lagi.

“Tahun depan saran saya untuk mengirim mahasiswa KKN kesini lagi karena Desa Riwang butuh kegiatan pengembangan, seperti keagamaan. Bahkan itu disampaikan langsung oleh Kepala Desa kepada Dosen Pembimbing Lapangan kami. Karena sejak tahun 1991 lalu, tidak ada lagi mahasiswa KKN yang ditempatkan di Desa Riwang sementara mereka sangat perlu bantuan dari kita,” tegasnya. (humas/rh).

News Feed